Toba-Mediadelegasi: Ratusan warga Kabupaten Toba yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat tutup TPL menggelar unjuk rasa ke Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Toba, di komplek perkantoran Pemkab Toba Jalan Sutomo, Desa Pagarbatu Balige, Kabupaten Toba, Selasa (29/6).
mengawali unjuk rasa, Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL yang terdiri dari unsur komunitas masyarakat adat, kelompok tani, mahasiswa dan masyarakat umum Kabupaten Toba itu, beranjak Bundaran Balige kompleks monumen pahlawan revolusi Mayjen DI Panjaitan Balige, dengan membawa berbagai spanduk dan poster yang tulisannya desakan menutup perusahaan yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) tersebut.
Dengan menggunakan alat pengeras suara, massa Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL ini roadshow di sepanjang jalan menuju kantor Bupati dan DPRD Toba terus menyerukan agar perusahaan penghasil pulp (bubur kertas) yang ada di Pangombusan Kecamatan Parmaksian ditutup.
Tiba di kantor Bupati Toba, Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL melakukan orasi saling bergantian, di antaranya Jhontoni Tarihoran dalam orasinya menyebutkan, bahwa tano Batak dianugerahi alam yang indah. Toba beruntung atas kemewahan itu. Kita pantas bersyukur dan menjaganya.
Namun sekarang, tano Batak kesakitan. “Toba tak luput dari bencana, semakin hari semakin terpuruk. Danau Toba semakin surut. Salah satu penyebab keterpurukan tano Batak adalah akibat dari aktifitas yang dilakukan PT TPL,” sebutnya.
Sejak berdirinya PT inti Indorayon Utama sejak tahun 1986 dan kemudian berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari, dengan izin konsesi seluas 167.912 ha. Izin tersebut telah merampas hak – hak masyarakat adat, petani, hak masyarakat umum atas lingkungan hidup yang baik dan sehat di tanah Batak khususnya Toba.
Beroperasinya TPL mengakibatkan tatanan kehidupan masyarakat adat Batak Toba turut terpuruk. Kehidupan yang damai dan rukun di kampung – kampung dipecah-belah.
Sumber daya alam yang melimpah hilang. Ancaman dan tantangan tak jarang terjadi. Alam pengunungan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman alam yang mampu meresap air, kini telah habis dikarenakan pembukaan lahan yang dilakukan perusahaan.
Oleh karenanya, Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL, mendesak Pemkab Toba untuk mendukung dan bekerjasama dalam menyelamatkan Tano Batak dengan mengeluarkan rekomendasi penutupan dan penghentian aktivitas PT TPL.
Merekomendasikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar mencabut zjin konsesi TPL serta mengembalikan lahan kepada komunitas masyarakat adat.
Aspirasi masyarakat itu diterima Wakil Bupati Toba Tonny M Simanjuntak sempat menemui massa yang melakukan aksi. Akan tetapi, massa menyampaikan agar bupati yang langsung menerima tuntutan dan mereka siap menunggu Bupati Toba sampai selesai mengikuti rapat di Parapat.
Anggota DPRD Toba Tidak Berada di Kantor
Sembari menunggu kedatangan Bupati Toba Poltak Sitorus, massa Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL bergerak menuju gedung DPRD guna menyampaikan aspirasinya. Akan tetapi,massa merasa kecewa karena anggota maupun pimpinan dewan tidak ada satu pun berada di gedung DPRD Toba.
Mereka hanya disambut oleh Sekretaris Dewan Agus Sitorus. Atas kekesalan ketidak perdulian wakil rakyat karena tidak satupun yang berada di kantor DPRD Toba untuk menerima aspirasi mereka, massa sempat ingin memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Bahkan mereka menyebutkan, akan menyegel gedung tersebut.
Bupati Toba Terima Aspirasi Masyarakat
Setelah menunggu lama, Bupati Toba Poltak Sitorus didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Toba Audy Murphy Sitorus akhirnya bertemu langsung dengan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL di halaman kantor Bupati Toba.
Pada kesempatan itu, Bupati Toba menyampaikan bahwa dirinya berada bersama dengan masyarakat Toba. Terkait dengan aspirasi dan surat yang disampaikan masyarakat Toba yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL, atas dukungan terkait rekomendasi tentang penutupan dan penghentikan TPL akan disampaikan kepada Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL paling lama besok hari pukul 13.00 WIB.
Usai melakukan aksi unjukrasa serta menyampaikan aspirasinya, massa yang tetap menjaga prokes ini, akhirnya membubarkan diri. Aksi yang berlangsung damai ini, mendapat pengawalam dari Polres Toba yang senantiasa selalu mengimbau peserta aksi tetap menjaga prokes. D|Tob-Rep






