Mahkamah Agung Kembali Diguncang Skandal Korupsi

oleh -364 views
Mahkamah Agung Kembali Diguncang Skandal Korupsi
Petugas (kanan) menunjukkan barang bukti uang tunai saat konferensi pers terkait operasi tangkap tangan (OTT) tindak pidana korupsi para pejabat Mahkamah Agung, di gedung KPK, Jakarta, Jumat (23/9). Foto: Ist

Jakarta-Mediadelegasi: Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia kembali diguncang skandal korupsi. Kali ini seorang hakim Agung Sudrajat Dimyati (SD) terseret skandal suap kasus pengurusan gugatan perdata terkait aktivitas Koperasi Intidana bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Jawa Tengah.

“Penyidik menetapkan 10 orang sebagai tersangka, diantaranya SD hakim agung MA,” kata Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli BahuriFirli dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (23/9), seperti dirangkum dari beberapa media massa.

Pada kesempatan itu, Firli Bahuri meminta Hakim Agung pada Mahkamah Agung (MA) Sudrajad Dimyati agar datang ke Gedung Merah Putih, karena pihaknya telah menetapkan Sudrajad dan 9 orang lainnya sebagai tersangka suap terkait pengurusan perkara di lembaga peradilan tinggi tersebut.

Firli mengatakan, penetapan tersangka ini dilakukan setelah KPK mengantongi alat bukti yang cukup.

Mereka diduga terlibat dalam kasus suap proses persidangan pada tahapan kasasi di MA atas putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam Intidana.

Kali ini seorang hakim agung Sudrajat Dimyati terseret skandal suap kasus pengurusan gugatan perdata terkait aktivitas koperasi Intidana bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Sudrajat Dimyati ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama 9 orang lainnya.

Selain Sudrajat Dimyati, KPK menetapkan, Panitera Pengganti Mahkamah Agung Elly Tri Pangestu dan Desy Yustria selaku pegawai negeri sipil (PNS) pada Kepaniteraan MA sebagai tersangka.

Kemudian Muhajir Habibie selaku PNS pada Kepaniteraan MA, lalu Yosep Parera, Eko Suparno, Albasri, Redi, serta Heryanto dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto.

BACA JUGA:  Tahbiskan Mgr Seno Ngutra Jadi Uskup Diosis Amboina 23 April 2022

Terseretnya Sudrajat Dimyati dalam skandal suap ini bermula dari operasi tangkap tangan oleh KPK di Semarang.

Firli Bahuri mengatakan dari sepuluh tersangka yang sudah ditetapkan oleh penyidik, baru enam orang yang ditahan.

Mereka di antaranya Panitera Pengganti Mahkamah Agung Elly Tri Pangestu dan Desy Yustria selaku pegawai negeri sipil (PNS) pada Kepaniteraan MA yang dibekuk dalam OTT ditahan di rumah tahanan (Rutan) KPK di Gedung Merah Putih.

Kemudian, Muhajir Habibie selaku PNS pada Kepaniteraan MA, lalu Yosep Parera dan Eko Suparno sebagai pengacara, ditahan di Polres Metro Jakarta Pusat.

Kronologi penangkapan
Pada Rabu (21/9) pukul 16.00 WIB, petugas KPK mengendus perihal adanya transaksi uang tunai dari tersangka Eko Suparno yang berprofesi sebagai pengacara kepada tersangka Desy Yustria selaku PNS pada Kepaniteraan MA di sebuah hotel di Bekasi, Jawa Barat.

Desy diduga merupakan kepanjangan tangan dari hakim Agung Sudrajad.

Keesokan harinya Kamis (22/9), sekitar pukul 01.00 WIB, tim KPK langsung bergerak menangkap Desy di kediamannya beserta uang tunai berupa dolar Singapura senilai SGD 205.000 atau sekitar Rp2.648.520.000.

Tim KPK turut mengamankan tersangka Yosep Parera selaku pengacara dan Eko Suparno di Semarang, Jawa Tengah.

Mereka langsung dibawa ke Jakarta tepatnya ke gedung KPK untuk dimintai keterangan secara lebih lanjut.

“Selain itu, Albasri, PNS di MA, juga hadir ke gedung KPK dan menyerahkan uang tunai Rp50 juta,” ungkap Firli.

Daftar Hakim
Penangkapan dan penetapan tersangka Hakim Agung Sudrajad tersebut menambah panjang daftar hakim yang terjerat kasus korupsi.

BACA JUGA:  Meningkatkan Kapasitas Para Hakim Tangani Tindak Pidana Siber

Hakim pertama yang terseret kasus korupsi adalah hakim PN Jakarta Selatan Herman Allositandi. Dia ditangkap pada Januari 2006. Herman dinyatakan terbukti melakukan penyalahgunaan jabatan karena memeras saksi perkara korupsi di PT Jamsostek. Herman diganjar dengan pidana penjara 4,5 tahun dan denda Rp 200 juta.

Berdasarkan catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) ada 20 hakim yang terjerat korupsi sejak 2012 hingga 2019, antara lain Kartini Marpaung, hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Semarang. Kartini diduga menerima suap Rp 150 juta terkait kasus dugaan korupsi biaya perawatan mobil dinas Kabupaten Grobogan yang melibatkan ketua DPRD Kabupaten Grobogan nonaktif, M Yaeni.

Berikutnya, hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Pontianak Heru Kisbandono, Asmadinata hakim Pengadilan Tipikor Semarang dan hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Palu Pragsono.

Selain itu, hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Bandung Ramlan Comel, Wakil Ketua PN Bandung Setyabudi Tejocahyono dan Merry Purba, hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Medan yang diduga menerima total 280.000 dollar Singapura terkait putusan untuk terdakwa Tamin Sukardi.

Selanjutnya, hakim PTUN Medan masing-masing Dermawan Ginting dan Amir Fauzi yang terbukti menerima suap dari pengacara OC Kaligis dalam perkara PTUN tentang korupsi bansos Medan tahun 2015.

Pada awal tahun 2022 ini, tepatnya 20 Januari 2022, KPK menetapkan hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Itong Isnaini Hidayat sebagai tersangka dugaan suap pengurusan perkara di PN Surabaya. D|Red-04/berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.